Mereka = Pejuang devisa??!!??

Tangan-tangan mereka gemetar..

kaki-kaki mereka tak bisa diam..

mata mereka awas..

dan pikiran mereka mulai melayang..

Panik, cemas, khawatir dan takut.

kondisi itu yang terlihat ketika bel berbunyi tanda ujian di mulai.

ini kali pertama saya di minta tolong untuk mengawas ujian bagi para TKI yang akan berangkat ke luar negeri (Korea).

pengalaman yang membuat saya akan berpikir berulang kali, bila suatu waktu di minta tolong kembali. ~_~ (gomenasai, cha-i)

ini bukan pengalaman yang menyenangkan bagi saya.. lebih karna masalah idealisme yang saya pegang selama ini, sedikit egois memang kalau dilihat dari sisi mereka (TKI) yang pada saat itu sedang mengikuti ujian. tetapi ini tentang sebuah kejujuran, tentang keberadaan kita.. apakah merasa di awasi atau tidak.. bukan tentang di awasi oleh manusia, tetapi lebih karena merasa di awasi oleh Pencipta kita.

hmm.. baiklah.. untuk sejenak.. saya akan memendam rasa itu.. walaupun tetap membuat saya ingin berteriak sekencang-kencangnya.. T_T

and the story goes on..

saat briefing untuk pertama kalinya dengan pengawas dari suatu Badan.. pada awalnya semua berjalan normal.. namun ketika sampai pada satu momen, dimana kita (para calon pengawas) diingatkan untuk membantu mereka dalam ujian tes ini. dengan alasan.. dengan lolos nya mereka (TKI) di ujian tertulis ini, bukan berarti mereka bisa terus lanjut untuk bekerja di luar negeri, karna masih banyak tahapan2 yang harus mereka lalui, jadi kita sebagai pengawas.. bantulah mereka.. dengan sedikit melonggarkan peraturan.. Ingat.. karena mereka lah.. devisa negara ini terbantu. *sedikit membelalakkan mata*

pada saat itu.. tiba2 dahi saya ikut berkerut.. hmm baiklah..

belum terbayang tentang melonggarkan peraturan.. karna ini memang pengalaman yang pertama.

dan tibalah hari H..

*mempersingkat cerita*

sesuai rencana.. sebelum kita masuk ke ruang ujian, para pengawas di briefing terlebih dahulu, dan briefing ini di pimpin langsung oleh HRD dari pihak Korea. walaupun sebelumnya harus diawali oleh saya dan adik angkatan yang harus sedikit banyak muter2 untuk mencari tempat briefing.. ):

dan briefing berlangsung dalam dua bahasa, korea dan indonesia.. *jujur.. pas nyimak mereka ngomong.. serasa lagi nonton drama korea yang pake dubbing indonesia* hee.. yaa… penjelasan bla..bla..bla..

setelah waktunya tiba.. masuklah kita para pengawas ke ruang ujian.. penjelasan lagi.. bla..bla..bla.. tentang peraturan ujian, yaa.. HP yang harus di titipkan ke pengawas atau di simpan di dalam tas, dll.

kebetulan.. partner pengawas saya, sama2 dari sahid dan dia sudah pernah mengawas di tahun sebelumnya.

*ini masih belum ‘ngeh’ tentang kondisi peraturan yang dilonggarkan..*

dan ketika bel berbunyi.. tanda ujian di mulai.. disinilah saya baru benar2 menyadari tentang ‘peraturan’ tersebut..

karna sesi pertama adalah listening (dalam bahasa korea full), peserta ujian masih tenang dan belum ada gerakan-gerakan yang mencurigakan.

selesai sesi pertama.. dilanjutkan dengan reading.. daaaannnn… disini lah semuanya terlihat.. T_T

yang tadinya para peserta duduk dengan tenang.. tiba-tiba..

sreett.. terlihat.. seorang bapak2 di barisan paling depan.. menyilangkan kakinya… dan terlihatlah apa yang ada di balik kaos kakinya.. sebuah handphone. shock PERTAMA.

dan.. mulailah.. satu-persatu para peserta ujian.. melakukan hal yang hampir serupa dengan yang dilakukan si bapak2 di barisan depan tersebut.. T_T dan kejutan-kejutannya terus berlanjut.

dalam hati mikir.. hoo.. jadi ini maksud nya di longgarkan peraturan.. *menghela nafas..* dan berujung, saya izin untuk ke toilet. untuk menghela nafas lebih dalam. huffhhh…

Itu kejadian di gelombang pertama. dan di gelombang kedua, tidak jauh berbeda.. peserta melakukan hal yang sama dengan metode yang sama pula.huufhhh..

Celetukan-celetukan antara saya dan teman dalam satu ruangan..

“ga ada cara nyontek yang lebih keren lagi apa ya?? masa caranya dari jam pertama n kedua sama..”

“penampilan boleh menyakinkan.. tapi ternyata.. sama aja.. ternyata nunggu jawaban..” “never judge the book from the cover”

pada saat itu saya berpikir.. jadi.. selama ini.. yang diajarkan ke mereka seperti itu.

yaa.. menunggu jawaban2 melalui sms, dan biaya sms itu.. tidak sama dengan kita biasa mengirim sms ke teman atau kerabat.. biaya yang harus dikeluarkan lebih besar daripada biaya pengeluaran mereka sehari-hari selama sebulan. padahal.. mereka juga harus membiayai perjalanan menuju tempat ujian.. karna menurut penglihatan saya.. mereka bukan orang2 yang tinggal di daerah sekitaran jakarta.. tetapi lebih banyak dari luar jabotabek.. apalagi melihat banyak nya bis yang memenuhi parkiran tempat ujian berlangsung. untuk bayangan.. peserta total.. hampir sekitar 7000 orang.

kembali lagi ke masalah sms. yang beruntung.. di kirim sms lebih dahulu, tetapi yang kurang beruntung.. bisa jadi telat.. atau tidak dikirim sama sekali.

dan ini yang menjadi masalah.. ketika mereka tidak di kirim sms.. mereka dengan malu-malu dan ada pula yang berterus terang bilang.. “Saya belum dapat kiriman”hee.. jadi.. daritadi.. diem2 itu.. karna nunggu tho?!?

hmm.. ini yang menjadi kegundahan..

What do you think??

apa yang ada di pikiran kamu??

#mohon maf.. karna lebih sering nulis yang pendek2.. ketika nulis di note.. malah jadi kepanjangan.. dan seperti biasa.. sedikit maju mundur.. terkadang berlarian.. dan pada akhirnya malah nge-gantung, kurang jelas.

sebenernya masih mengganjal di pikiran dan hati.. tapi sedikit sulit untuk dituliskan.. dan khawatir malah tambah bingung.. dan yang mau disampaikan tidak mengena.

-nad-

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: